Paolo Maldini, Bek Tangguh Legenda AC Milan

Paolo Maldini, Bek Tangguh Legenda AC Milan

Semua penggemar sepak bola pasti mengenal sosok pemain bernama Paolo Maldini. Ia merupakan salah satu bek bertahan terbaik yang pernah dimiliki oleh AC Milan dan bahkan di timnas Italia. Sepakbola dunia pun juga mengakui kehebatan pemain berambut ikal tersebut. Tak heran jika banyak yang memuji kualitas dirinya.

Salah satu pemain yang mengagumi sosok Maldini adalah Carles Puyol. Bek legenda Barcelona dan timnas Spanyol tersebut bahkan menjadikan pemain kelahiran 26 Juni 1968 itu sebagai panutannya dalam urusan mengelola bola.

Paolo Maldini
Paolo Maldini Bek Tangguh Masa

Maldini terkenal sebagai bek bertahan yang memiliki postur proposional di lini pertahanan AC Milan. Banyak striker lawan yang kesulitan menembus kokohnya benteng i Rossoneri dari sisi kiri. Tak hanya di level klub saja, Ia juga menjadi pilihan utama para pelatih Negeri Pisa untuk lini belakang. Tak heran, apabila pemain lawan yang mencoba untuk menerobos dari sisi kiri, maka akan siap-siap untuk mendapatkan hadangan bahkan jegalan.

Kualitasnya juga diakui oleh legenda sepakbola Brasil, Luiz Nazario Ronaldo Da Lima. Ia mengungkapkan bahwa Maldini berhak mendapatkan penghargaan pemain terbaik, bahkan tak hanya sekali, tetapi untuk beberapa kali. “Jujur, bek bertahan yang sulit saya hadapi sepanjang karir saya adalah Paolo Maldini. Dengan kualitas yang dimilikinya, ku rasa Ia berhak untuk mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik dunia. Tak hanya sekali saja menurutku, tetapi beberapa kali, Ia pantas meraihnya,” ujar Ronaldo saat diwawancara oleh Foxsport pada tahun 2014.

Tak hanya hebat sebagai pemain bertahan saja. Maldini juga menunjukkan kualitas yang dimilikinya saat menjadi pemimpin rekan-rekannya di atas lapangan. Kapten pemain di level klub AC Milan, maupun di level internasional bersama timnas Italia itu memang terkenal akan sejumlah tekel-tekelnya yang keras. Tetapi berdasarkan statistik yang dirili oleh Fifa, bahwa Maldini hanya sekali mendapatkan kartu merah saja pada pertandingan antara Milan berhadapan dengan Ancona.

Perjalanan Karir Maldini Di AC Milan

Paolo Maldini melakukan debutnya bersama AC Milan saat melawan Udinese di ajang Serie A pada tahun 1985. Dimana saat itu, Ia baru berusia 16 tahun. Sejak turun ke lapangan untuk pertama kalinya tersebut, karir Il Bandiera Mancini berjalan cemerlang.

Paolo Maldini
Paolo Maldini berhasil menjuarai Liga Champions

Ia berhasil memenangkan banyak trofi bersama i Rossoneri. Tercatat, hingga tahun 2007, Maldini berhasil meraih gelar Serie A sebanyak tujuh kali dan empat kali Liga Champions. Puncak karirnya terjadi pada tahun 1994. Dimana Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia atau Ballon d’Or versi majalah olahraga France Football.

Pada awalnya, Paolo Maldini dipasang sebagai bek kiri oleh manajer Nils Liedholm. Ia sukses menjaga kawasan pertahanan sebelah kiri dengan aman. Namun, seiring dengan kemampuannya yang terus berkembang dan mampu menggunakan kedua kakinya. Dirinya di plot sebagai bek tengah menggantikan Franco Baresi yang memutuskan untuk pensiun.

Maldini mengakhiri karirnya bersama AC Milan pada tahun 2009. Sebelumnya , Ia mengutarakan bahwa ingin pensiun setelah 22 tahun membela. Tetapi keinginan untuk membela setahun lagi, akhirnya Ia lakoni dan benar-benar gantung sepatu di usianya yang menginjak 40 tahun.

Maldini Bersinar Bersama Italia

Tak hanya sukses di level klub saja, melainkan karir Maldini juga bersinar bersama timnas Italia. Pada tahun 1998, Ia melakukan debut untuk Gli Azzurri dan bermain di posisi bek kiri. Saat membela Italia pada Piala Dunia 1998, posisinya bergeser menjadi bek sentral, seiring sang pelatih yang menerapkan tiga bek bertahan.

Paolo Maldini
Paolo Maldini saat membela timnas Italia

Maldini sukses mencatatkan penampilan dengan jumlah 126 laga dan berhasil membuat 7 gol. Ia ikut berpartisipasi di ajang kejuaraan antar negara di seluruh dunia sebanyak empat kali. Paolo Maldini akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2002.

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Dunia sepakbola tentu masih mengingat sebuah kejadian yang bernama Tragedi Munich. Sebuah kecelakaan pesawat yang dialami oleh punggawa Manchester United pada tahun 1958. Akibatnya, sejumlah pemain harus meregang nyawa dan tak sedikit mengalami luka-luka. Salah satu pemain yang selamat dari kecelakaan tersebut adalah Bobby Charlton.

Charlton harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, lantaran dirinya mengalami luka di bagian kepalanya. Tak hanya di bagian atas, tetapi juga terluka pada bagian selangkangan dan bahkan alat kelaminnya harus terhimpit oleh bangkai pesawat. Namun, berkat perjuangan tim medis dan di dorong dengan keyakinan pemain, Charlton akhirnya mampu kembali merumput, setelah selamat dari kecelakaan yang secara total menewaskan 23 jiwa tersebut.

Tragedi Munich
Pesawat Tragedi Munich

Awalnya, tim MU akan bertandang ke markas Red Star untuk menjalani laga Piala Eropa pada musim 1957/58 di Beogard, Yugoslavia. Namun, pesawat tersebut harus mendarat di Munich untuk mengisi bahan bakar, lantaran pesawat sekelas Airspeed Ambassodar tersebut tak mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.

Setelah pengisian bahan bakar selesai, pilot Kapten James Thain bersama co-pilot Kenneth Rayment mencoba untuk lepas landas dengan maksimal dua kali. Namun kedua usaha tersebut harus dibatalkan, lantaran terjadi gangguan di bagian mesin. Tetapi, sang kapten memilih untuk melakukan upaya ketiga, dengan tujuan supaya tim tidak terlambat.

Di saat usaha ketiga tersebut, salju mulai turun dan membuat ujung lintasan terdapat lapisan lumpur. Sehingga, pesawat tersebut menyentuh tumpukan lumpur, mengakibatkan kehilangan kecepatan. Alhasil, membentur pagar pembatas dan pada bagian sayap menabrak rumah. Takut pesawat meledak, sang pilot menyerukan para penumpang yang selamat untuk pergi menjauhi pesawat.

Sebanyak 23 orang dinyatakan meninggal akibat tragedi sepakbola tersebut, termasuk pemain The Reds Devil, staff kepelatihan hingga sejumlah jurnalis.

Charlton Bangkit Setelah Tragedi Munich 1958

Salah satu korban yang selamat dari Tragedi Munich pada tahun 1958 adalah Sir Bobby Charlton. Pemain yang lahir di Ashington, Inggris pada tanggal 11 Oktober 1937 ini, melakukan debutnya untuk Manchester Uniterd pada usia 17 tahun kala bertanding melawan Charlton di Old Trafford. Setelah kejadian tragedi mengerikan tersebut, Bobby mendedikasikan setiap laga untuk rekan-rekannya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Munich.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton kala menjadi pemain sepak bola

Sir Bobby Charlton bersama Jimmy Murphy membangun ulang MU setelah kejadian tersebut. Murphy menggantikan Busby sebagai asisten pelatih lantaran menjadi korban akan kecelakaan pesawat. Kala itu, Murphy tidak ikut dalam rombongan pesawat, dikarenakan sedang menjalani tugas keduanya, yakni melatih timnas Wales.

Kedua sosok tersebut sangat berjasa dalam kebangkitan The Reds Devil. Alhasil, Bobby berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa atau yang kini disebut dengan Liga Champions pada tahun 1968. Ia pun berhasil mencetak dua gol di partai puncak dan membuat sejarah klub Inggris pertama yang memenangkan gelar Piala Eropa.

Selama keikutsertaannya membela timnas Inggris pada ajang Piala Dunia 1958, 1962, 1966 dan 1970. Ia berhasil mengantarkan The Three Lions mengangkat trofi paling bergengsi tersebut di tahun ketiganya, yakni 1966.

Pasca Berkarir Sebagai Pemain Manchester United

Sir Bobby Charlton akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tim yang tengah melambungkan namanya tersebut untuk menjadi pelatih sebuah klub bernama Preston North End di musim 1973/74. Namun karirnya menjadi manajer tak berjalan mulus. Pasalnya, di musim pertama, klubnya harus terdegradasi. Hanya dua tahun saja, Ia memutuskan untuk pergi.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton saat menjadi anggota direksi Manchester United

Pada tahun 1983, Bobby bergabung bersama Wigan Athletic sebagai direktur dan pernah menjadi pelatih kala itu, namun hanya dalam waktu yang cukup singkat saja. Ia pun kemudian memilih untuk menghabiskan waktu bermainnya di kawasan Afrika Selatan. Sebelum dirinya berbisnis di jasa perjalanan, pelayanan, perhiasan dan membangun sejumlah sekolah sepak bola di daratan Kanada, Australia, China, AS dan tanah kelahirannya, Inggris.

Maradona Si Tangan Tuhan

Maradona Si Tangan Tuhan

Semua para sepakbola seantero dunia, pasti mengenal sosok Diego Armando Maradona Franco atau Maradona. Pemain yang lebih dikenal dengan sebutan si Tangan Tuhan. Kala itu, Ia menyetak gol ke gawang Inggris dalam babak perempat final di ajang Piala Dunia tahun 1986. Gol tersebut tercipta dengan menggunakan tangan dan oleh sang pengadil lapangan di sahkan menjadi gol, lantaran terlihat mengenai kepalanya.

Diego Maradona
Gol Tangan Tuhan Maradona ke gawang Inggris

Gol tangan tuhan tersebutlah, mengantarkan Timnas Argentina menembus babak semifinal dan sampai di partai puncak. Pada partai final, Tim Tanggo berhasil memenangkan pertandingan atas Jerman Barat dengan skor tipis, yakni 3-2. Di tahun tersebutlah, Argentina berhasil menjuarai Piala Dunia dan pemain andalannya, Diego Maradona berhasil keluar sebagai pemain terbaik turnamen, atau Golden Ball.

Karir Awal Sang Legenda Sepakbola Diego Maradona

Diego Maradona menjadi legenda bagi timnas Argentina pada rentan tahun 80’an. Pemain berpostur mungil ini, menempati posisi sebagai Attacking Midfielder dan terkadang menjadi Supporting Striker. Di rentan tahun tersebutlah, Maradona menjadi idola di tanah Negeri Tanggo. Bahkan, masyarakat dunia pun mengakui kualitas dan kemampuan sang pemain yang banyak orang bilang memiliki tarian khas saat bermain diatas lapangan.

Diego Maradona
Diego Maradona berhasil menjuarai Piala Uefa bersama Napoli

Maradona memulai karirnya pada tahun 1976 bersama klub Argentinos Juniors. Tak butuh waktu lama untuk masuk ke tim utama timnas Argentina. Tepatnya, setahun berselang melakukan debut, Ia langsung melakukan debut internasional. Selang lima menit, Boca Juniors terpincut akan skill yang dimilikinya dan langsung menebus harga yang dibanderol oleh kubu klub, yang kala itu berharga 1 juta poundsterling.

Pada tahun pertama bersama Boca Juniors, Maradona langsung mempersembahkan sebuah trofi bergengsi, yakni Campeonato Metropolitano. Tetapi, sang pemain hanya bermain satu musim saja bersama klub tersebut. Di tahun 1982, Ia resmi menjadi pemain Barcelona dengan nilai transfer yang memecahkan rekor dunia kala itu, yaitu sebesar 3 juta poundsterling.

Sayang pada awal karirnya bersama klub Catalan, sang pemain mengalami cedera akibat tekel pemain lawan yang sangat keras dan memaksa untuk beristirahat dalam jangka waktu beberapa bulan. Ia pun juga hanya bertahan satu tahun saja bersama klub asal Spanyol tersebut dan berhasil mempersembahkan trofi Copa Del Rey.

Di tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1984, Maradona hijrah ke Negeri Italia dan membela klub SSC Napoli. Dua tahun berselang, sejarah pun tercipta, Napoli untuk pertama kalinya dapat menjuarai Serie A. Setahun berikutnya, Partenopei Gli Azzurri tidak dapat mempertahankan gelar, namun berhasil menjuarai Piala Italia dan 1989 kembali menjuarai ajang liga tertinggi di daratan Negeri Pisa. Puncaknya, pada musim 1988/1989, Napoli keluar sebagai juara Piala Uefa setelah mengalahkan Stuttgart di partai final.

Kejayaan Bersama Timnas Argentina

Tak hanya berhasil bersama klub yang dibelanya saja. Diego Maradona juga sukses bersama timnas Argentina. Terbukti, pada tahun 1978, Maradona mengantarkan Tim Tanggo menjuarai Piala Dunia. Kehebatan pemain berposisi striker itu pun kembali menunjukkan kehebatannya dalam mengelola bola. Alhasil, di tahun 1986, Argentina kembali menjuarai Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Meksiko.

Diego Maradona
Diego Maradona saat mengangkat trofi Piala Dunia

Di ajang kejuaraan antar negara yang dihelat di Meksiko pada tahun 1986, pemain identik dengan nomor punggun 10 ini, berhasil membuat gol terbaik yang akan tercatat di buku sejarah sepak bola. Kala itu, Ia mengelabui lima pemain Inggris dan sekaligus sang kiper yang pada masanya merupakan penjaga gawang ternama, Peter Shilton.

Pada ajang yang sama, Maradona membuat sebuah gol sensasional. Pemain dengan postur yang tak cukup tinggi itu, menciptakan gol dengan sentuhan tangannya. Ia pun mengatakan bahwa gol tersebut dibantu oleh “tangan Tuhan“. Pada akhirnya, di tahun 2005, Ia mengakui gol tangan Tuhan tersebut.