Kapten Fantastis Steven Gerrard

Kapten Fantastis Steven Gerrard

Mengenal Liverpool, tentu kita juga mengenal salah satu sosok legenda hidup sekaligus sang kapten The Reds dalam beberapa dekade belakangan ini, Steven Gerrard. Pemain berkebangsaan Inggris itu merupakan salah satu gelandang terbaik yang dimiliki oleh tim Nasional The Three Lion, begitu pula dengan Liverpool. Tak heran jika banyak para pendukung yang menyebut bahwa Gerrard adalah kapten fantastis.

Steven Gerrard
Steven Gerrard sang kapten fantastsi Liverpool

Sebelum menjabat sebagai kapten tim, Gerrard terlebih dahulu menjadi wakil kapten. Hingga akhirnya pada bulan Oktober 2003, dirinya pun dipercaya untuk menjadi kapten utama tim, menggantikan Sami Hypia. Waktu itu, Liverpool masih dilatih oleh Gerrard Houlliler. Ia mengungkapkan bahwa Steven Gerrard sudah menunjukkan kehebatannya dalam kualitas memimpin di atas lapangan dan dirinya sudah lebih dewasa.

Karir Junior Steven Gerrard

Lahir di Whiston, Inggris pada tanggal 30 Mei 1980, Steven Gerrad memulai karirnya bersama tim lokal, Whiston Juniors. Bermain memukau di klub pertamanya tersebut, membuat pencari bakat Liverpool terpincut dan memutuskan merekrutnya ke dalam skuat akademi junior The Reds. Kala itu, usianya baru menginjak 9 tahun.

Steven Gerrard
Steven Gerrard kala bermain untuk akademi Liverpool

Tetapi, di akademi Liverpool, Gerrard kurang berkembang dengan sangat baik. Hasilnya pun, dirinya hanya bermain sebanyak 20 pertandingan saja dari usia 14 tahun hingga 16 tahun. Saat usianya menginjak 14 tahun, Gerrard memiliki kesempatan untuk bertanding melawan Manchester United.

Di usia mudanya, Steven mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh garpu taman berkarat. Sehingga, Gerrard harus merelakan jari kakinya. Namun, insiden tersebut tak membuat sang legenda itu menjadi putus asa. Dirinya terus berlatih keras setiap saat dan menunjukkan kehebatannya dalam mengelola si kuli bundar.

Hingga pada akhirnya, Steven Gerrard menandatangani kontrak profesional pertamanya saat usinya menginjak 17 tahun. Tepatnya, pada tanggal 5 November 1997, dirinya resmi menjadi pemain bola profesional bersama Liverpool.

Kesuksesan Gerrard Berseragam Liverpool

Setahun berselang sejak menandatangani kontrak profesionalnya bersama Liverpool, Gerrard akhirnya melakukan debut bersama tim utama Liverpool pada tanggal 29 November 1998. Dirinya masuk di babak kedua untuk menggantikan peran Vegard Heggem di lini tengah saat laga melawan Blackburn Rovers.

Steven Gerrard
Steven Gerrard berhasil mengantarkan Liverpool mengangkat trofi Liga Champions

Gerrard mulai mengisi starting line up Liverpool, semejak Jamie Redknapp mengalami cedera. Penampilan pertamanya sebagai starting eleven The Reds terjadi kala berhadapan dengan Celta Vigo dalam kejuaraan Piala UEFA. Semenjak itu, pemain kelahiran Whiston, mencatatkan laga sebanyak 13 penampilan bersama Liverpool di musim tersebut.

Di musim 2003/2004, Stevie G (sapaan akrab Steven Gerrard) belum mampu mengantarkan Liverpool untuk menjuarai di berbagai ajang, termasuk juga trofi Liga Primer Inggris. Sehingga, rumor akan kepergian sang kapten mencuat ke publik. Ditambah lagi, sang pelatih, Houllier juga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Namun tetapi, pada akhirnya, tawaran senilai 20 juta Pounds atau setara Rp 384 Miliar dari Chelsea ditolak oleh Steven Gerrard dan memutuskan untuk tetap membela Liverpool dibawah asuhan pelatih baru, Rafael Benitez.

Stevie G mengawali musim 2004/2005 dengan cedera pada pertengahan September kala berhadapan dengan The Reds Devil. Cedera tersebut tidak terlalu parah, hingga pada akhir bulan November, sang kapten kembali lagi merumput. Namun sayang, di musim itu, Gerrard harus melakukan gol bunuh diri di partai puncak Piala Liga saat bersua The Blues. Skor akhir menjadi 2-3 untuk keunggulan Chelsea dan berhak menjadi kampiun.

Tetapi, di musim yang sama, Steven bersama Liverpool mampu bangkit di ajang Liga Champions. The Reds mampu mengangkat trofi si Kuping Besar, setelah melakukan perlawanan yang begitu sengit kala melawan wakil Italia, AC Milan di sepanjang 120 menit. Klub yang bermarkas di Anfield Stadium itu pun menang melalui drama adu penalti.

Dirinya memutuskan hengkang dari Liverpool pada tahun 2015 dan bergabung bersama LA Galaxy. Steven Gerrard sudah mencatatkan penampilan sebanyak 504 laga dan berhasil mencetak 120 gol saat berseragam The Reds serta memenangkan sejumlah trofi baik di level tim maupun individu.

Ferenc Puskas Sang Pahlawan Hongaria

Ferenc Puskas Sang Pahlawan Hongaria

Ferenc Puskas merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah berseragam tim Nasional Hongaria, yang pada awal tahun 1950-an adalah negara penguasa sepak bola internasional. Timnas Hongaria kala itu dijuluki sebagai “Magical Magyars”, lantaran merupakan salah satu tim terbaik yang hadir di dunia persepakbolaan dunia. Walau sayangnya tim tersebut tak pernah mengangkat gelar juara piala dunia.

Ferenc Puskas menjadi pahlawan timnas Hongaria

Puskas menjadi bagian dalam timnas Hongaria di pergelaran Piala Dunia 1954 yang berlangsung di Swiss. Ajang tersebut merupakan satu-satunya kejuaraan sepakbola antar negara yang diikuti oleh Puskas. Kala itu, Hongaria menjadi tim favorit dalam perburuan gelar juara. Kekuataan utama Hongaria di kejuaraan tersebut terletak di lini serang yang ditakuti oleh bek-bek dari berbagai negara, terutama bintang andalan yakni Puskas.

Pemain kelahiran Budapest pada 1 April 1927 itu memiliki postur tubuh yang terbilang pendek dan kalah dalam duel di udara. Namun walau demikian, dirinya sudah mencatatkan 83 gol dari 84 laga yang telah dilalui ketika membela negaranya di ajang internasional.

Piala Dunia 1954 tersebut, Puskas mampu mengantarkan timnas Hongaria hingga partai puncak. Di partai final, The Magical Magyars harus berhadapan dengan Jerman, yang pernah dikalahkan ketika memasuki babak penyisihan grup dengan skor yang sangat telak, yakni 8-3. Sehingga, hampir semua para pencinta olahraga sepak bola memprediksi bahwa Hongaria akan mudah menaklukkan Die Mannschaft.

Tetapi, kenyataannya berbanding terbalik. Walaupun timnas Hongaria mampu unggul 2-0 di awal laga, tetapi pada akhirnya, Jerman mampu mengembalikkan keadaan menjadi 2-3 dan keluar sebagai juara piala dunia edisi 1954.

Dalam laga puncak tersebut, bintang utama Hongaria, Puskas baru saja sembuh dari cedera dan keadaannya belum 100 persen fit. Namun, dengan keadaan seperti itu, Puskas masih mampu mengeluarkan kehebatanya di atas lapangan dan berhasil mencetak satu gol. Ferenc Puskas pun dinobatkan sebagai salah satu pemain sepakbola terbaik dalam sejarah pergelaraan ajang Piala Dunia. Sehingga mampu sedikit mengobati kesedihan seluruh masyarakat Hongaria kala itu.

Perjalanan Awal Karir Ferenc Puskas

Puskas memulai karir sepakbolanya bersama salah satu klub lokal Hongaria, yakni Kispect AC yang kala itu dilatih oleh ayahnya sendiri, Farenc Sr. Tetapi di tahun 1949, Kispect AC resmi berganti nama menjadi Bundapest Honved, lantaran Kementrian Pertahanan Hongaria mengambil alih klub tersebut.

Ferenc Puskas
Ferenc Puskas menjadi pemain terbaik dalam sejarah pergelaran Piala Dunia

Ketika berseragam Bundapest Honved, Puskas berhasil memenangkan lima kali gelar juara Liga Hongaria. Dirinya pun juga tercatat sebagai top skor dalam empat musim dan bahkan di tahun 1948, Puskas menjadi pencetak gol terbanyak eropa dari sejumlah liga-liga besar dengan torehan 50 gol.

Puncaknya, Puskas mampu mengantarkan Bundapest Honved tampil di kejuaraan Eropean Cup. Tetapi sayang, perjalanannya langsung terhenti di laga pertama kala berhadapan dengan Atletico Bilbao dengan skor secara agregat 6-5.

Ferenc Puskas Bersama Real Madrid

Hongaria mengalami revolusi di tahun 1956, sehingga Puskas membuat keputusan untuk menolak kembali bergabung bersama Bundapest Honved. Namun, keputusan tersebut justru merugikan dirinya, lantaran terkena larangan tampil selama dua tahun di daratan Eropa oleh UEFA.

Ferenc Puskas
Ferenc Puskas ketika berseragam Real Madrid

Dua tahun telah berlalu, Puskas memilih untuk hijrah ke Italia. Tetapi, tak ada satu klub pun yang merekrutnya, walau sebelumnya Juventus dan AC Milan tertarik untuk mendatangkannya. Dirinya pun dikabarkan akan berseragam Manchester United yang tengah mengalami kecelakaan pesawat terbang (Tragedi Munich). Namun, Puskas tidak diizinkan oleh FA lantaran tak mampu berbicara bahasa Inggris yang merupakan salah satu syarat pemain asing untuk bermain di Liga Primer Inggris.

Hingga akhirnya, Puskas yang sudah berusia 31 tahun bergabung bersama Real Madrid. Dimana kala itu sudah dihuni oleh sejumlah pemain bintang seperti Alfredo Di Stefano, Hector Rial, Jose Santamaria dan Francisco Gento.

Bersama Los Blancos, Puskas mampu meraih sejumlah gelar bergengsi dan merajai Eropa. Diantaranya yakni, tiga gelar La Liga Spanyol, tiga trofi Liga Champions, dan Copa Del Rey.

Carles Puyol, Legendaris La Blaugrana

Carles Puyol, Legendaris La Blaugrana

Carles Puyol merupakan salah satu legenda yang dimiliki oleh Barcelona. Lahir di La Pobla de Segur, Spanyol, Puyol dibesarkan di lingkungan para pesepakbola. Sejak kanak-kanak, Puyol dan bola seakan-akan tak pernah terpisahkan. Sehingga tak heran jika dirinya dibesarkan bersama sepakbola.

Carles Puyol
Carles Puyol si The Wall Barcelona

Pemain kelahiran 13 April 1978 tersebut bergabung bersama akademi atau Barcelona C pada tahun 1995. Namun sayangnya, karir dirinya tidak berkembang dengan sangat baik. Dirinya pun tidak pernah mencetak satu gol pun ke gawang lawan. Pada akhirnya, Puyol memutuskan untuk bergabung bersama Barcelona B.

Keputusan yang sangat berani di tahun 1997 tersebut akhirnya berbuah hasil yang sangat positif. Dirinya mulai berkembang dengan begitu baik.  Tercatat, sebanyak 89 gol mampu Ia lesakkan ke gawang lawan saat berseragam La Blaugrana B. Hingga, tim utama Barcelona FC tertarik untuk menarik sang pemain untuk bermain di kancah senior.

Pada awalnya, Puyol bermain di posisi sebagai gelandang bertahan. Namun perlahan Ia bergeser ke posisi bek kanan. Hingga akhirnya, di tim utama, Ia ditempatkan sebagai bek sentral.

Walaupun berposisi sebagai bek tangguh di lini pertahanan, Puyol mampu mencetak gol. Sebanyak 379 gol sukses Ia menyarangkan bola ke gawang lawan saat berseragam Barcelona.

Di musim 2003/2004, Puyol dipercaya untuk memimpin rekan-rekannya di atas lapangan. Sejak menjadi kapten tim utama, dirinya menjadi lebih bersinar. Namun, di musim pertamanya menjabat sebagai kapten, La Blaugrana tak mampu meraih satu gelar pun. Tahun berikutnya, The Wall (julukan Puyol dari para publik Catalan) berhasil mempersembahkan gelar pertamanya untuk Barcelona, yakni gelar juara La Liga.

Setahun berselang, tepatnya musim 2005/2006, Liga Champions menjadi trofi kedua bagi La Capita (julukan kapten) untuk publik Catalan. Sekaligus mengakhiri puasa gelar kejuaraan antar klub di Eropa selama 14 tahun lamanya. Secara keseluruhan, Puyol sukses merengkuh gelar juara Divisi Primera Spanyol sebanyak empat kali, dua gelar Liga Champions, satu trofi Piala Spanyol, sebanyak empat kali Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub masing-masing satu gelar.

Puyol Bersama Tim Nasional Spanyol

Tak hanya bersinar di level klub bersama Barcelona saja, tetapi Puyol juga menjadi salah satu pemain andalan di lini pertahanan tim Nasional Spanyol. Mungkin Negeri Matador bukanlah sebuah negara cukup memiliki rasa patrotik yang tinggi. Tetapi, dalam satu dekade terakhir rasanya pantas menyebut Spanyol menjadi salah satu negara yang besar. Lantaran, mampu meraih kesuksesan besar.

Carles Puyol

Satu momen Puyol bersama timnas Matador yang tak terlupakan oleh para masyarakat Spanyol, yakni tandukan bola ke gawang Jerman pada ajang Piala Dunia 2010 di babak semifinal. Hasilnya, La Capita mampu mengantarkan timnas Spanyol ke partai puncak. Di partai final, Spanyol mampu mengalahkan Belanda dengan skor tipis 0-1. Dimana gol tunggal diciptakan oleh Andres Iniesta di menit perpanjangan waktu.

Trofi tersebut merupakan gelar juara kedua bagi Puyol bersama tim Nasional Spanyol. Sebelumnya, The Wall mampu mengantarkan timnas Negeri Matador merengkuh trofi EURO di tahun 2008.

Puyol: Saya Cinta Barcelona, Tetapi Ada Ruang Untuk AC Milan

Kecintaan Carles Puyol terhadap klub yang membesarkan namanya, Barcelona tak perlu lagi diragukan. Bersama tim Catalan tersebut, pemain yang mengenakan nomor punggung 5 mampu mempersembahkan berbagai trofi baik di kancah liga domestik maupun di kancah internasional. Namun tetapi, Puyol membagi ruang hati untuk klub raksasa Italia, AC Milan.

Puyol yang menghabiskan seluruh masa karirnya bersama Barcelona dan mencatatkan penampilan sebanyak 600 laga serta memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2013/2014, mengungkapkan bahwa terdapat ruang hati untuk Milan. “Tentu Barcelona tetap menjadi yang pertama. Tetapi jika berbicara Milan, saya sudah mengatakan berulang kali, bahwa Milan adalah klub kedua saya,” ujar Puyol saat menghadiri acara Golden Foot di Monaco.

Zanetti, Traktor Inter Milan

Zanetti, Traktor Inter Milan

Serie A merupakan salah satu liga paling bergengsi si antero dunia pada kala itu. Dimana sebelum Liga Primer Inggris yang saat ini menjadi primadona para penikmat sepakbola. Jika berbicara mengenai liga domestik Italia, tentu kita akan membicarakan sejumlah pemain yang terkenal sangat loyal bersama klub. Seperti salah satunya yakni Javier Zanetti atau yang dijuluki sebagai Traktor bersama Inter Milan.

Javier Zanetti
Javier Zanetti sang Traktor Inter Milan

Pemain yang memiliki nama lengkap Javier Adelmar Zanetti lahir pada tanggal 10 Agustus 1973 di Buenos Aires, Argentina. Zanetti telah berseragam Inter Milan sejak tahun 1995. Di tanggal 29 Agustus 1999, merupakan hari bersejarah baginya, lantaran dirinya dipercaya sebagai kapten tim untuk memimpin para rekan-rekannya diatas lapangan. Namun, di tahun 2014, Zanetti memutuskan untuk gantung sepatu atau pensiun.

Pemain berkebangsaan Argentina tersebut merupakan pemain serba bisa. Dirinya mampu bermain di segala posisi, baik di lini serang, gelandang maupun di lini pertahanan. Ia pun juga salah satu dari sedikit para pemain yang sukses mencatatkan lebih dari 1000 laga resmi di sepanjang karirnya menjadi pesepakbola profesional.

Dengan fisik yang sangat kuat dan memiliki daya tahan yang tinggi, Zanetti mendapakan julukan “Traktor“. Dirinya mampu bermain secara cepat dengan intensitas yang tinggi baik dalam kemampuan untuk membantu pertahanan maupun juga disaat tim membutuhkan tenaga di lini serang. Ia juga dikenal oleh seluruh masyarakat pencinta si kulit budar, dikarenakan memiliki keterampilan bermain di segala posisi dan tingkat jelajah yang sangat tinggi.

Zanetti Di Masa Junior

Sebelum bermain di Negeri Pisa dan membela Inter Milan, Zanetti memulai karir menjadi pesepakbola profesional bersama tim junior Independiente. Di masa itu, dirinya diposisikan menjadi seorang striker. Lantaran memiliki dribel yang sangat baik dan skill akselerasi ke jantung pertahanan lawan serta umpan silang yang sangat akurat.

Javier Zanetti
Javier Zanetti di masa junior

Namun, secara perlahan, Zanetti junior tak lagi ditempatkan di lini serang. Dirinya di plot sebagai geladang bertahan, hingga pada akhirnya bermain di posisi pertahanan.

Bersama klub Independiente, karir Zanetti tidak berjalan dengan mulus. Dirinya bahkan harus dikeluarkan dari klub tersebut, lantaran faktor badan. Dimana, badan Ia dinilai tidak proposional atau terlalu kurus. Sehingga, pada tahun berikutnya, dirinya memilih untuk bergabung bersama klub Talleres.

Bersama Talleres, dirinya telah mencatatkan 33 laga dan sukses mencetak hanya satu gol saja selama satu musim. Debut pertama dirinya saat berseragam klub junior liga Argentina terjadi pada tanggal 22 Agustus 1992, saat melawan Instituto dan berakhir dengan kedudukan 2-1 untuk keunggulan timnya.

Karir Profesional Zanetti

Setahun berikutnya, Zanetti hijrah ke Banfield dan menandatangani kontrak profesional pertamanya di dunia sepakbola. Bersama Banfield, dirinya tampil gemilang dan menunjukkan bakat yang Ia miliki. Hasilnya, Zanetti dipanggil untuk membela timnas Argentina. Bahkan, dua klub raksasa di Negera Tenggo, Boca Juniors dan River Plate tertarik untuk merekutnya.

Javier Zanetti
Javier Zanetti sukses menjadi kapten klub Italia pertama yang meraih treble winner

Namun, Ia lebih memilih untuk bermain di Italia dan berseragam Inter Milan. Zanetti menjadi pembelian pertama Massimo Moratti yang baru saja resmi menjadi presiden klub. Dirinya merupakan satu dari pembelian pemain oleh raja minyak asal Italia tersebut untuk memperkuat Inter Milan.

Pemain bernomor punggung 4 tersebut, melakukan debutnya bersama I Nerazzurri pada tanggal 27 Agustus 1995. Sejak debutnya tersebut, Ia langsung menjadi pilihan utama sang pelatih di setiap pertandingannya. Dirinya pun sering bermain di segala posisi, baik sebagai bek kanan, kiri, bek jangkar, gelandang bertahan hingga penyerang.

Selama berseragam Inter Milan, Zanetti sukses meraih 16 gelar juara. Dimana 15 gelar tersebut didapatkan ketika dirinya menjabat sebagai kapten tim. Di tahun 1998, berhasil menjuarai Piala UEFA, Coppa Italia di tahun 2005, 2006 dan 2010, Piala Super Italia sebanyak empat kali, Scudetto di musim 2005 hingga 2010 secara beruntun dan puncaknya gelar juara Liga Champions di tahun 2009/2010 serta di akhir tahun 2010, berhasil meraih Piala Dunia Antarklub.

Zanetti sukses mencatatkan namanya sebagai kapten sebuah klub Italia pertama kali yang meraih treblee winner di tahun 2010. Dimana di tahun tersebut, Inter Milan keluar sebagai Copa Italia, Scudetto dan Liga Champions.

King Henry, Peluru Mematikan Milik Arsenal

King Henry, Peluru Mematikan Milik Arsenal

Thierry Daniel Henry atau lebih dikenal dengan sebutan Henry merupakan salah satu pemain yang paling bersinar dalam ajang Liga Primer Inggris bersama Arsenal dalam dua dekade terakhir. Ia menjadi pemain andalan sang pelatih The Gunners, Arsene Wenger di lini serang. Hasilnya, gelontoran gol spektakuler mampu Ia lesatkan ke gawang lawan. Tak heran, dirinya dijuluki sebagai King Henry, sang peluru mematikan milik Meriam London kala itu.

King Henry Arsenal
King Henry, peluru mematikan milik Arsenal kala itu

Pemain yang identik dengan nomor punggung 14 telah menghabiskan masa baktinya bersama Arsenal selama delapan musim. Terhitung sejak tahun 1999 dan memutuskan hijrah pada tahun 2007. Secara total, Ia telah membukukan 228 gol di semua ajang kompetisi dari 368 penampilan bersama The Gunners.

Dengan catatan gol sebanyak itu, membuat pemain berkebangsaan Perancis tersebut menjadi top skor sepanjang masa Arsenal yang hingga kini belum terpecahkan. Padahal, dirinya mengungkapkan bahwa mencetak gol bukanlah bakat yang Ia miliki. Namun, Ia terus bekerja keras demi dapat mencetak gol.

“Sejujurnya, saya tidak memiliki bakat yang baik untuk menciptakan sebuah gol. Tetapi, saya terus bekerja untuk hal tersebut. Hasilnya, keras keras merupakan kunci keberhasilan saya dalam menyarangkan bola ke gawang lawan. Saya terus mengasah diri saya sendiri, demi menjadi pemain terbaik, baik dalam urusan menendang, menyundul hingga membaca sebuah permainan diatas lapangan,” ujar Henry.

Karir Sang King Henry Bersama Arsenal

Henry mengawali karir sepakbola profesional bersama klub asal negaranya sendiri, yakni AS Monaco pada tahun 1994. Di kota yang terletak pada bagian selatan Negeri Monarki itulah, dirinya untuk pertama kali bertemu dengan Arsene Wenger. Namun ironisnya, sang pelatih harus terdepak dari Monaco.

King Henry Arsenal
Karir Henry sukses saat berseragam Arsenal

Tetapi, Henry terus berkembang dengan baik dan menyabet gelar sebagai pemain muda terbaik Perancis dua tahun beruntun, yakni 1996 dan 1997. Sekaligus membantu timnya meraih gelar Ligue 1 dan Trophée des Champions. Di tahun 1999, sang pemain memutuskan untuk hijrah ke Negeri Italia untuk bergabung bersama Juventus. Namun, karirnya berseragam si Nyonya Tua hanya bertahan setengah musim saja.

Sehingga, di tahun yang sama, takdir mempertemukan kembali antara Arsene Wenger bersama Henry di Arsenal. Hasilnya, sang pemain bertransformasi menjadi penyerang tengah yang mematikan dari sebelumnya bermain di posisi sayap. Henry bermain di lini serang The Gunners bersama Dennis Bergkamp dan menjadikan duet tersebut sangat ditakuti oleh bek-bek manapun.

King Henry yang berbagi peran di lini depan bersama Bergkamp yang menurutnya merupakan partner terbaik diatas lapangan, berhasil menorehkan sejarah dengan mencatatkan 49 tak terkalahkan dan satu musim tak terkalahkan (Invincibles) tepatnya di tahun 2003/2004. Secara total, 175 gol telah ia cetak dan memberi 74 assist di EPL.

Puncaknya, pada musim 2006, Henry mampu mengantarkan Arsenal melangkah di partai final Liga Champions. Namun, pada laga tersebut, The Gunners harus takluk dari tim Catalan, Barcelona. Kekalahan tersebut menjadi kisah manis sang pemain selama berseragam Arsenal.

Tahta King Henry

Status King Henry atau Raja Henry diperoleh dari Inggris dan tentu para fans loyalitas Meriam London yang selalu memuji sang pemain bak dewa sepakbola. Arsenal pun membangun sebuah patung perunggu di luar Emirates Stadium. Patung tersebut diadaptasi dari selebrasi khas Henry yang berlari menyusuri ke arah ujung lapangan.

Patung Perunggu King Henry
Patung Perunggu King Henry yang berada di luar Emirates Stadium

Walaupun Henry yang sudah turun dari singgasananya, tetapi Ia mengungkapkan bahwa kecintaan terhadap klub yang telah membesarkan dirinya tetap ada didalam hati. “Saya mencintai Arsenal. Suatu saat tentu saya akan kembali kesana,ujar Henry.

Pemain kelahiran 17 Agustus 1977 tersebut menambahkan bahwa impian selanjutnya adalah untuk melatih Arsenal. “Impian saya setelah pensiun dari dunia sepakbola, saya ingin melatih Arsenal,tutup King Henry.

Kisah Johan Cruyff Taklukkan Adidas

Kisah Johan Cruyff Taklukkan Adidas

Kisah mengenai Johan Cruyff yang menaklukkan Adidas berlangsung pada pergelaran kejuaraan sepak bola antar negara atau Piala Dunia pada tahun 1974 lalu. Tepatnya saat Cruyff menolak untuk menggunakan jersey Adidas yang merupakan sponsor utama timnas Belanda dalam ajang tersebut.

Johan Cruyff
Johan Cruyff mengenakan jersey dua garis pada Piala Dunia 1974

Johan Cruyff merupakan legenda Belanda yang telah tutup usia pada tanggal 24 Maret 2016 silam, atau tepatnya saat usianya menginjak 68 tahun. Ia meninggal lantaran penyakit kanker yang telah dideritanya sejak beberapa waktu lalu. Cruyff dikenal sebagai pemain sepakbola yang memiliki kehebatan. Tak hanya sebagai pemain saja, disaat menjabat sebagai pelatih, sang legenda juga memiliki kejeniusan dalam meracik strategi.

Tak hanya dikenal dengan karakteristik tersebut, tetapi Ia juga dikenal sebagai orang yang keras kepala menurut beberapa orang yang mengenal dia. Terbukti, brand terkenal dan sangat ternama asal Jerman, Adidas pun sempat takluk akan sifat keras kepalanya.

Bermula ketika Piala Dunia 1974 akan dimulai. Dimana, Johan Cruyff ketika itu merupakan brand ambassador dari pesaing Adidas, yakni Puma. Sementara produk asal Jerman tersebut merupakan sponsor utama tim Nasional Belanda. Sang legenda yang sangat menghormati kontraknya bersama Puma, menolak untuk mengenakan jersey negaranya, lantaran terdapat atribut Adidas didalamnya.

Cruyff pun mengancam kepada sang pelatih dan para staff kepelatihan tim Negeri Kincir Angin, apabila dirinya menggunakan jersey dengan balutan brand yang identik dengan tiga garis tersebut. Maka dirinya akan tidak ikut serta dalam ajang paling bergengsi di seluruh dunia tersebut.

Timnas Belanda pun memikirkan akan permintaan Cruyff yang merupakan salah satu bintang yang sangat dihormati di seluruh Negeri Holland. Pada akhirnya, tim Nasional Belanda mengalah dan menuruti permintaan sang legenda tersebut. Mereka meminta kepada pihak Adidas untuk menghilangkan satu garis saja di bagian lengan jersey dan logo tiga garis yang berada di bagian dada sebelah kanan.

Hasilnya, sepanjang turnamen Piala Dunia 1974 berlangsung, Johan Cruyff mengenakan jersey yang berbeda dari rekan-rekannya di timnas Netherland. Dimana jersey yang Ia kenakan hanya memiliki dua garis saja di bagian kiri dan kanan lengan. Logo Adidas pun juga tak nampak.

Uniknya lagi, disaat Johan Cruyff mengakhiri masa baktinya di dunia sepakbola, baik di level internasional maupun di klub. Dirinya tetap tidak ingin bekerja sama bersama Adidas. Padahal, produk asal Jerman tersebut menawarkan hak paten dua garis yang dirinya kenakan pada pergelaran kejuaraan sepakbola antar dunia.

Perjalanan Karir Sang Legenda Johan Cruyff

Karir Johan Cruyff di dunia sepakbola dimulai ketika dirinya berusia 10 tahun. Dimana, Cruyff meniti karir bersama Ajax Amsterdam pada tahun 1964. Di tahun pertama, Ia tak mampu membawa timnya meraih gelar satupun dan harus duduk di urutan ke 13 dalam tabel klasemen akhir Liga Belanda. Tahun berikutnya, Cruyff tampil memukau dengan meraih gelar individu yakni top skor dan mengantarkan gelar juara Liga. Puncaknya, Ia sukses membawa Ajax Amsterdam menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya.

Johan Cruyff
Johan Cruyff sukses mengantarkan Ajax Amsterdam merajai Eropa

Di musim 1973, Cruyff ditransfer ke klub asal Catalan, Barcelona dengan banderol sebesar $2 juta. Dirinya pun juga sukses di Negeri Matador dengan meraih gelar juara La Liga Spanyol dan Piala Spanyol.

Kemudian dirinya bermain untuk Los Angeles Aztec, Washington Diplomats dan kembali ke Spanyol untuk membela Levante di divisi kedua. Musim 1981 merumput kembali bersama Ajax Amsterdam dan dua musim berselang, memutuskan untuk berseragam Feyenoord Rotterdam yang merupakan rival Ajax, lantaran pihak klub tidak memperpanjang kontraknya.

Kebiasaan Merokok Johan Cruyff

Tak ada gading yang tak retak. Pepatah tersebut sangat cocok disematkan untuk sang Legenda Belanda, Johan Cruyff. Sukses sebagai pemain sepakbola baik dikancah internasional maupun level klub. Tetapi, dirinya memiliki kebiasaan buruk, dimana tak dapat lepas dari menikmati tembakau.

Johan Cruyff
Johan Cruyff berhenti menghisap rokok

Akhirnya, dokter memberikan peringatan keras kepadanya. Begitu pula dengan sang istri tercinta yang memperingatkan akan kebiasaan buruk tersebut. Hasilnya, tangan kiri yang biasa menggenggang rokok, kini berganti dengan permen lolipop.

Raul Gonzalez, Sang Matador Real Madrid

Raul Gonzalez, Sang Matador Real Madrid

Sebelum publik Santiago Bernabeu menjunjung tiggi sosok nomor 7 yang saat ini dikenakan oleh mega bintang Cristiano Ronaldo, tentu mereka mengagungkan sosok Raul Gonzalez yang sama-sama identik dengan nomor punggung tujuh.

Raul Gonzalez
Raul Gonzalez sang Matador Spanyol

Pemain dengan nama lengkap Raul Gonzalez Blanco ini, merupakan salah satu legenda yang dimiliki oleh Real Madrid dan tentu sepakbola Spanyol. Dia adalah striker andalan para pelatih Los Blancos dari tahun 1994 hingga akhirnya memutuskan untuk hengkang pada tahun 2010. Ia pun memiliki julukan “Sang Matador Spanyol“.

Perjalanan Raul Gonzalez

Awal mula karir sepakbola sang matador dimulai saat dirinya bergabung bersama sebuah klub amatir San Cristobel de Los Angeles. Setelah itu, sang ayah berperan penting dalam karirnya dan memutuskan untuk membawa anaknya bergabung bersama Atletico Madrid. Selama dua tahun, Raul sukses memenangkan gelar nasional bersama tim muda Atletico Madrid U-15. Tetapi, semenjak presiden klub menghapuskan tim usia muda, lantaran permasalahan anggaran, Raul hijrah ke rival sekota dan resmi berseragam Real Madrid.

Raul Gonzalez
Raul Gonzalez saat membela Real Madrid

Raul terlebih dahulu bermain untuk tim muda El Real. Ia berhasil tampil memukau, dengan sukses mencetak 13 gol, hanya dari 7 pertandingan yang dilakoninya. Catatan spesial tersebut, membuat sang pelatih tim utama Jorge Valdano memasukkan dirinya ke skuat utama. Pada bulan Oktober 1994, tepatnya saat Raul baru berusia 17 tahun 4 bulan, dirinya melakukan debut untuk tim utama Real Madrid, sekaligus mencatatkan dirinya sebagai pemain termuda sepanjang sejarah tim.

Bakat istimewa tersebut, mampu menggeser sang peraih gelar top skor, Emilio Butrageuno dan membuat dirinya menjadi topik utama di Negeri Matador. Dalam 28 penampilan di tahun pertamanya bergabung bersama El Real, Ia berhasil menyarangkan sembilan gol. Dimana salah satu golnya dicetak ke gawang Atletico Madrid.

Bersama Los Blancos, Raul Gonzalez memenangkan gelar La Liga Spanyol sebanyak enam kali, Piala Super Spanyol tiga kali, gelar Liga Champions UEFA sebanyak tiga kali dan Piala Super Eropa hanya sekali serta dua gelar Piala Interkontinental.

Raul juga berhasil mencatatkan gelar individu bersama El Real. Dirinya menjadi top skor La Liga Spanyol atau disebut dengan gelar El Pichichi pada tahun 1999 dan 2001. Ia pun juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Divisi Primera pada musim 1996-97, penyerang terbaik UEFA di tahun 2000, 2001 dan 2003, pemain terbaik dalam ajang Piala Interkontinental 1998 dan meraih gelar pemain terbaik versi IFFSH 1999 serta Olahragawan terkemuka Spanyol di tahun 2000 dan sebagainya.

Raul dan Perpisahan Real Madrid

Raul Gonzalez bersama Real Madrid tak seperti Paolo Maldini yang membela AC Milan. Dimana, Maldini diperlakukan istimewa sebagai legenda Milan. Namun, perlakukan El Real terhadap Raul tak seperti yang dirasakan oleh bek tangguh milik Milan tersebut.

Raul Gonzalez
Karir Raul Gonzalez harus berakhir bersama Real Madrid

Kisah sang matador sejatinya sama seperti yang dialami oleh Maldini. Dimana kedua pemain tersebut membela masing-masing klub sejak usia dini. Keduanya sukses menjelma menjadi bintang utama. Raul menjadi striker andalan di ujung tombak Los Blancos dan paling ditakuti pada era 90-an hingga 2000-an.

Telah sukses bersama Real Madrid, namun dirinya tak bisa pensiun di klub yang telah dibelanya sejak usia muda tersebut. Raul ingin terus bermain di skuat utama dan tak ingin mengisi bangku cadangan lantaran hal tersebut bukanlah tempatnya. Namun, disisi lain, pihak klub tak bisa terus memaksa permintaan sang pemain.

Sehingga Raul memutuskan untuk hengkang dari klub yang telah membesarkan namanya tersebut daripada harus mengisi bangku cadangan di masa-masa terakhirnya, kala itu usianya sudah menginjak 33 tahun dan belum memutuskan untuk pensiun. Namun, Raul tetap mencintai Real Madrid, walau pernah dikecewakan.

Paolo Maldini, Bek Tangguh Legenda AC Milan

Paolo Maldini, Bek Tangguh Legenda AC Milan

Semua penggemar sepak bola pasti mengenal sosok pemain bernama Paolo Maldini. Ia merupakan salah satu bek bertahan terbaik yang pernah dimiliki oleh AC Milan dan bahkan di timnas Italia. Sepakbola dunia pun juga mengakui kehebatan pemain berambut ikal tersebut. Tak heran jika banyak yang memuji kualitas dirinya.

Salah satu pemain yang mengagumi sosok Maldini adalah Carles Puyol. Bek legenda Barcelona dan timnas Spanyol tersebut bahkan menjadikan pemain kelahiran 26 Juni 1968 itu sebagai panutannya dalam urusan mengelola bola.

Paolo Maldini
Paolo Maldini Bek Tangguh Masa

Maldini terkenal sebagai bek bertahan yang memiliki postur proposional di lini pertahanan AC Milan. Banyak striker lawan yang kesulitan menembus kokohnya benteng i Rossoneri dari sisi kiri. Tak hanya di level klub saja, Ia juga menjadi pilihan utama para pelatih Negeri Pisa untuk lini belakang. Tak heran, apabila pemain lawan yang mencoba untuk menerobos dari sisi kiri, maka akan siap-siap untuk mendapatkan hadangan bahkan jegalan.

Kualitasnya juga diakui oleh legenda sepakbola Brasil, Luiz Nazario Ronaldo Da Lima. Ia mengungkapkan bahwa Maldini berhak mendapatkan penghargaan pemain terbaik, bahkan tak hanya sekali, tetapi untuk beberapa kali. “Jujur, bek bertahan yang sulit saya hadapi sepanjang karir saya adalah Paolo Maldini. Dengan kualitas yang dimilikinya, ku rasa Ia berhak untuk mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik dunia. Tak hanya sekali saja menurutku, tetapi beberapa kali, Ia pantas meraihnya,” ujar Ronaldo saat diwawancara oleh Foxsport pada tahun 2014.

Tak hanya hebat sebagai pemain bertahan saja. Maldini juga menunjukkan kualitas yang dimilikinya saat menjadi pemimpin rekan-rekannya di atas lapangan. Kapten pemain di level klub AC Milan, maupun di level internasional bersama timnas Italia itu memang terkenal akan sejumlah tekel-tekelnya yang keras. Tetapi berdasarkan statistik yang dirili oleh Fifa, bahwa Maldini hanya sekali mendapatkan kartu merah saja pada pertandingan antara Milan berhadapan dengan Ancona.

Perjalanan Karir Maldini Di AC Milan

Paolo Maldini melakukan debutnya bersama AC Milan saat melawan Udinese di ajang Serie A pada tahun 1985. Dimana saat itu, Ia baru berusia 16 tahun. Sejak turun ke lapangan untuk pertama kalinya tersebut, karir Il Bandiera Mancini berjalan cemerlang.

Paolo Maldini
Paolo Maldini berhasil menjuarai Liga Champions

Ia berhasil memenangkan banyak trofi bersama i Rossoneri. Tercatat, hingga tahun 2007, Maldini berhasil meraih gelar Serie A sebanyak tujuh kali dan empat kali Liga Champions. Puncak karirnya terjadi pada tahun 1994. Dimana Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia atau Ballon d’Or versi majalah olahraga France Football.

Pada awalnya, Paolo Maldini dipasang sebagai bek kiri oleh manajer Nils Liedholm. Ia sukses menjaga kawasan pertahanan sebelah kiri dengan aman. Namun, seiring dengan kemampuannya yang terus berkembang dan mampu menggunakan kedua kakinya. Dirinya di plot sebagai bek tengah menggantikan Franco Baresi yang memutuskan untuk pensiun.

Maldini mengakhiri karirnya bersama AC Milan pada tahun 2009. Sebelumnya , Ia mengutarakan bahwa ingin pensiun setelah 22 tahun membela. Tetapi keinginan untuk membela setahun lagi, akhirnya Ia lakoni dan benar-benar gantung sepatu di usianya yang menginjak 40 tahun.

Maldini Bersinar Bersama Italia

Tak hanya sukses di level klub saja, melainkan karir Maldini juga bersinar bersama timnas Italia. Pada tahun 1998, Ia melakukan debut untuk Gli Azzurri dan bermain di posisi bek kiri. Saat membela Italia pada Piala Dunia 1998, posisinya bergeser menjadi bek sentral, seiring sang pelatih yang menerapkan tiga bek bertahan.

Paolo Maldini
Paolo Maldini saat membela timnas Italia

Maldini sukses mencatatkan penampilan dengan jumlah 126 laga dan berhasil membuat 7 gol. Ia ikut berpartisipasi di ajang kejuaraan antar negara di seluruh dunia sebanyak empat kali. Paolo Maldini akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2002.

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Dunia sepakbola tentu masih mengingat sebuah kejadian yang bernama Tragedi Munich. Sebuah kecelakaan pesawat yang dialami oleh punggawa Manchester United pada tahun 1958. Akibatnya, sejumlah pemain harus meregang nyawa dan tak sedikit mengalami luka-luka. Salah satu pemain yang selamat dari kecelakaan tersebut adalah Bobby Charlton.

Charlton harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, lantaran dirinya mengalami luka di bagian kepalanya. Tak hanya di bagian atas, tetapi juga terluka pada bagian selangkangan dan bahkan alat kelaminnya harus terhimpit oleh bangkai pesawat. Namun, berkat perjuangan tim medis dan di dorong dengan keyakinan pemain, Charlton akhirnya mampu kembali merumput, setelah selamat dari kecelakaan yang secara total menewaskan 23 jiwa tersebut.

Tragedi Munich
Pesawat Tragedi Munich

Awalnya, tim MU akan bertandang ke markas Red Star untuk menjalani laga Piala Eropa pada musim 1957/58 di Beogard, Yugoslavia. Namun, pesawat tersebut harus mendarat di Munich untuk mengisi bahan bakar, lantaran pesawat sekelas Airspeed Ambassodar tersebut tak mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.

Setelah pengisian bahan bakar selesai, pilot Kapten James Thain bersama co-pilot Kenneth Rayment mencoba untuk lepas landas dengan maksimal dua kali. Namun kedua usaha tersebut harus dibatalkan, lantaran terjadi gangguan di bagian mesin. Tetapi, sang kapten memilih untuk melakukan upaya ketiga, dengan tujuan supaya tim tidak terlambat.

Di saat usaha ketiga tersebut, salju mulai turun dan membuat ujung lintasan terdapat lapisan lumpur. Sehingga, pesawat tersebut menyentuh tumpukan lumpur, mengakibatkan kehilangan kecepatan. Alhasil, membentur pagar pembatas dan pada bagian sayap menabrak rumah. Takut pesawat meledak, sang pilot menyerukan para penumpang yang selamat untuk pergi menjauhi pesawat.

Sebanyak 23 orang dinyatakan meninggal akibat tragedi sepakbola tersebut, termasuk pemain The Reds Devil, staff kepelatihan hingga sejumlah jurnalis.

Charlton Bangkit Setelah Tragedi Munich 1958

Salah satu korban yang selamat dari Tragedi Munich pada tahun 1958 adalah Sir Bobby Charlton. Pemain yang lahir di Ashington, Inggris pada tanggal 11 Oktober 1937 ini, melakukan debutnya untuk Manchester Uniterd pada usia 17 tahun kala bertanding melawan Charlton di Old Trafford. Setelah kejadian tragedi mengerikan tersebut, Bobby mendedikasikan setiap laga untuk rekan-rekannya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Munich.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton kala menjadi pemain sepak bola

Sir Bobby Charlton bersama Jimmy Murphy membangun ulang MU setelah kejadian tersebut. Murphy menggantikan Busby sebagai asisten pelatih lantaran menjadi korban akan kecelakaan pesawat. Kala itu, Murphy tidak ikut dalam rombongan pesawat, dikarenakan sedang menjalani tugas keduanya, yakni melatih timnas Wales.

Kedua sosok tersebut sangat berjasa dalam kebangkitan The Reds Devil. Alhasil, Bobby berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa atau yang kini disebut dengan Liga Champions pada tahun 1968. Ia pun berhasil mencetak dua gol di partai puncak dan membuat sejarah klub Inggris pertama yang memenangkan gelar Piala Eropa.

Selama keikutsertaannya membela timnas Inggris pada ajang Piala Dunia 1958, 1962, 1966 dan 1970. Ia berhasil mengantarkan The Three Lions mengangkat trofi paling bergengsi tersebut di tahun ketiganya, yakni 1966.

Pasca Berkarir Sebagai Pemain Manchester United

Sir Bobby Charlton akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tim yang tengah melambungkan namanya tersebut untuk menjadi pelatih sebuah klub bernama Preston North End di musim 1973/74. Namun karirnya menjadi manajer tak berjalan mulus. Pasalnya, di musim pertama, klubnya harus terdegradasi. Hanya dua tahun saja, Ia memutuskan untuk pergi.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton saat menjadi anggota direksi Manchester United

Pada tahun 1983, Bobby bergabung bersama Wigan Athletic sebagai direktur dan pernah menjadi pelatih kala itu, namun hanya dalam waktu yang cukup singkat saja. Ia pun kemudian memilih untuk menghabiskan waktu bermainnya di kawasan Afrika Selatan. Sebelum dirinya berbisnis di jasa perjalanan, pelayanan, perhiasan dan membangun sejumlah sekolah sepak bola di daratan Kanada, Australia, China, AS dan tanah kelahirannya, Inggris.

Maradona Si Tangan Tuhan

Maradona Si Tangan Tuhan

Semua para sepakbola seantero dunia, pasti mengenal sosok Diego Armando Maradona Franco atau Maradona. Pemain yang lebih dikenal dengan sebutan si Tangan Tuhan. Kala itu, Ia menyetak gol ke gawang Inggris dalam babak perempat final di ajang Piala Dunia tahun 1986. Gol tersebut tercipta dengan menggunakan tangan dan oleh sang pengadil lapangan di sahkan menjadi gol, lantaran terlihat mengenai kepalanya.

Diego Maradona
Gol Tangan Tuhan Maradona ke gawang Inggris

Gol tangan tuhan tersebutlah, mengantarkan Timnas Argentina menembus babak semifinal dan sampai di partai puncak. Pada partai final, Tim Tanggo berhasil memenangkan pertandingan atas Jerman Barat dengan skor tipis, yakni 3-2. Di tahun tersebutlah, Argentina berhasil menjuarai Piala Dunia dan pemain andalannya, Diego Maradona berhasil keluar sebagai pemain terbaik turnamen, atau Golden Ball.

Karir Awal Sang Legenda Sepakbola Diego Maradona

Diego Maradona menjadi legenda bagi timnas Argentina pada rentan tahun 80’an. Pemain berpostur mungil ini, menempati posisi sebagai Attacking Midfielder dan terkadang menjadi Supporting Striker. Di rentan tahun tersebutlah, Maradona menjadi idola di tanah Negeri Tanggo. Bahkan, masyarakat dunia pun mengakui kualitas dan kemampuan sang pemain yang banyak orang bilang memiliki tarian khas saat bermain diatas lapangan.

Diego Maradona
Diego Maradona berhasil menjuarai Piala Uefa bersama Napoli

Maradona memulai karirnya pada tahun 1976 bersama klub Argentinos Juniors. Tak butuh waktu lama untuk masuk ke tim utama timnas Argentina. Tepatnya, setahun berselang melakukan debut, Ia langsung melakukan debut internasional. Selang lima menit, Boca Juniors terpincut akan skill yang dimilikinya dan langsung menebus harga yang dibanderol oleh kubu klub, yang kala itu berharga 1 juta poundsterling.

Pada tahun pertama bersama Boca Juniors, Maradona langsung mempersembahkan sebuah trofi bergengsi, yakni Campeonato Metropolitano. Tetapi, sang pemain hanya bermain satu musim saja bersama klub tersebut. Di tahun 1982, Ia resmi menjadi pemain Barcelona dengan nilai transfer yang memecahkan rekor dunia kala itu, yaitu sebesar 3 juta poundsterling.

Sayang pada awal karirnya bersama klub Catalan, sang pemain mengalami cedera akibat tekel pemain lawan yang sangat keras dan memaksa untuk beristirahat dalam jangka waktu beberapa bulan. Ia pun juga hanya bertahan satu tahun saja bersama klub asal Spanyol tersebut dan berhasil mempersembahkan trofi Copa Del Rey.

Di tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1984, Maradona hijrah ke Negeri Italia dan membela klub SSC Napoli. Dua tahun berselang, sejarah pun tercipta, Napoli untuk pertama kalinya dapat menjuarai Serie A. Setahun berikutnya, Partenopei Gli Azzurri tidak dapat mempertahankan gelar, namun berhasil menjuarai Piala Italia dan 1989 kembali menjuarai ajang liga tertinggi di daratan Negeri Pisa. Puncaknya, pada musim 1988/1989, Napoli keluar sebagai juara Piala Uefa setelah mengalahkan Stuttgart di partai final.

Kejayaan Bersama Timnas Argentina

Tak hanya berhasil bersama klub yang dibelanya saja. Diego Maradona juga sukses bersama timnas Argentina. Terbukti, pada tahun 1978, Maradona mengantarkan Tim Tanggo menjuarai Piala Dunia. Kehebatan pemain berposisi striker itu pun kembali menunjukkan kehebatannya dalam mengelola bola. Alhasil, di tahun 1986, Argentina kembali menjuarai Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Meksiko.

Diego Maradona
Diego Maradona saat mengangkat trofi Piala Dunia

Di ajang kejuaraan antar negara yang dihelat di Meksiko pada tahun 1986, pemain identik dengan nomor punggun 10 ini, berhasil membuat gol terbaik yang akan tercatat di buku sejarah sepak bola. Kala itu, Ia mengelabui lima pemain Inggris dan sekaligus sang kiper yang pada masanya merupakan penjaga gawang ternama, Peter Shilton.

Pada ajang yang sama, Maradona membuat sebuah gol sensasional. Pemain dengan postur yang tak cukup tinggi itu, menciptakan gol dengan sentuhan tangannya. Ia pun mengatakan bahwa gol tersebut dibantu oleh “tangan Tuhan“. Pada akhirnya, di tahun 2005, Ia mengakui gol tangan Tuhan tersebut.