Kapten Fantastis Steven Gerrard

Kapten Fantastis Steven Gerrard

Mengenal Liverpool, tentu kita juga mengenal salah satu sosok legenda hidup sekaligus sang kapten The Reds dalam beberapa dekade belakangan ini, Steven Gerrard. Pemain berkebangsaan Inggris itu merupakan salah satu gelandang terbaik yang dimiliki oleh tim Nasional The Three Lion, begitu pula dengan Liverpool. Tak heran jika banyak para pendukung yang menyebut bahwa Gerrard adalah kapten fantastis.

Steven Gerrard
Steven Gerrard sang kapten fantastsi Liverpool

Sebelum menjabat sebagai kapten tim, Gerrard terlebih dahulu menjadi wakil kapten. Hingga akhirnya pada bulan Oktober 2003, dirinya pun dipercaya untuk menjadi kapten utama tim, menggantikan Sami Hypia. Waktu itu, Liverpool masih dilatih oleh Gerrard Houlliler. Ia mengungkapkan bahwa Steven Gerrard sudah menunjukkan kehebatannya dalam kualitas memimpin di atas lapangan dan dirinya sudah lebih dewasa.

Karir Junior Steven Gerrard

Lahir di Whiston, Inggris pada tanggal 30 Mei 1980, Steven Gerrad memulai karirnya bersama tim lokal, Whiston Juniors. Bermain memukau di klub pertamanya tersebut, membuat pencari bakat Liverpool terpincut dan memutuskan merekrutnya ke dalam skuat akademi junior The Reds. Kala itu, usianya baru menginjak 9 tahun.

Steven Gerrard
Steven Gerrard kala bermain untuk akademi Liverpool

Tetapi, di akademi Liverpool, Gerrard kurang berkembang dengan sangat baik. Hasilnya pun, dirinya hanya bermain sebanyak 20 pertandingan saja dari usia 14 tahun hingga 16 tahun. Saat usianya menginjak 14 tahun, Gerrard memiliki kesempatan untuk bertanding melawan Manchester United.

Di usia mudanya, Steven mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh garpu taman berkarat. Sehingga, Gerrard harus merelakan jari kakinya. Namun, insiden tersebut tak membuat sang legenda itu menjadi putus asa. Dirinya terus berlatih keras setiap saat dan menunjukkan kehebatannya dalam mengelola si kuli bundar.

Hingga pada akhirnya, Steven Gerrard menandatangani kontrak profesional pertamanya saat usinya menginjak 17 tahun. Tepatnya, pada tanggal 5 November 1997, dirinya resmi menjadi pemain bola profesional bersama Liverpool.

Kesuksesan Gerrard Berseragam Liverpool

Setahun berselang sejak menandatangani kontrak profesionalnya bersama Liverpool, Gerrard akhirnya melakukan debut bersama tim utama Liverpool pada tanggal 29 November 1998. Dirinya masuk di babak kedua untuk menggantikan peran Vegard Heggem di lini tengah saat laga melawan Blackburn Rovers.

Steven Gerrard
Steven Gerrard berhasil mengantarkan Liverpool mengangkat trofi Liga Champions

Gerrard mulai mengisi starting line up Liverpool, semejak Jamie Redknapp mengalami cedera. Penampilan pertamanya sebagai starting eleven The Reds terjadi kala berhadapan dengan Celta Vigo dalam kejuaraan Piala UEFA. Semenjak itu, pemain kelahiran Whiston, mencatatkan laga sebanyak 13 penampilan bersama Liverpool di musim tersebut.

Di musim 2003/2004, Stevie G (sapaan akrab Steven Gerrard) belum mampu mengantarkan Liverpool untuk menjuarai di berbagai ajang, termasuk juga trofi Liga Primer Inggris. Sehingga, rumor akan kepergian sang kapten mencuat ke publik. Ditambah lagi, sang pelatih, Houllier juga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Namun tetapi, pada akhirnya, tawaran senilai 20 juta Pounds atau setara Rp 384 Miliar dari Chelsea ditolak oleh Steven Gerrard dan memutuskan untuk tetap membela Liverpool dibawah asuhan pelatih baru, Rafael Benitez.

Stevie G mengawali musim 2004/2005 dengan cedera pada pertengahan September kala berhadapan dengan The Reds Devil. Cedera tersebut tidak terlalu parah, hingga pada akhir bulan November, sang kapten kembali lagi merumput. Namun sayang, di musim itu, Gerrard harus melakukan gol bunuh diri di partai puncak Piala Liga saat bersua The Blues. Skor akhir menjadi 2-3 untuk keunggulan Chelsea dan berhak menjadi kampiun.

Tetapi, di musim yang sama, Steven bersama Liverpool mampu bangkit di ajang Liga Champions. The Reds mampu mengangkat trofi si Kuping Besar, setelah melakukan perlawanan yang begitu sengit kala melawan wakil Italia, AC Milan di sepanjang 120 menit. Klub yang bermarkas di Anfield Stadium itu pun menang melalui drama adu penalti.

Dirinya memutuskan hengkang dari Liverpool pada tahun 2015 dan bergabung bersama LA Galaxy. Steven Gerrard sudah mencatatkan penampilan sebanyak 504 laga dan berhasil mencetak 120 gol saat berseragam The Reds serta memenangkan sejumlah trofi baik di level tim maupun individu.

King Henry, Peluru Mematikan Milik Arsenal

King Henry, Peluru Mematikan Milik Arsenal

Thierry Daniel Henry atau lebih dikenal dengan sebutan Henry merupakan salah satu pemain yang paling bersinar dalam ajang Liga Primer Inggris bersama Arsenal dalam dua dekade terakhir. Ia menjadi pemain andalan sang pelatih The Gunners, Arsene Wenger di lini serang. Hasilnya, gelontoran gol spektakuler mampu Ia lesatkan ke gawang lawan. Tak heran, dirinya dijuluki sebagai King Henry, sang peluru mematikan milik Meriam London kala itu.

King Henry Arsenal
King Henry, peluru mematikan milik Arsenal kala itu

Pemain yang identik dengan nomor punggung 14 telah menghabiskan masa baktinya bersama Arsenal selama delapan musim. Terhitung sejak tahun 1999 dan memutuskan hijrah pada tahun 2007. Secara total, Ia telah membukukan 228 gol di semua ajang kompetisi dari 368 penampilan bersama The Gunners.

Dengan catatan gol sebanyak itu, membuat pemain berkebangsaan Perancis tersebut menjadi top skor sepanjang masa Arsenal yang hingga kini belum terpecahkan. Padahal, dirinya mengungkapkan bahwa mencetak gol bukanlah bakat yang Ia miliki. Namun, Ia terus bekerja keras demi dapat mencetak gol.

“Sejujurnya, saya tidak memiliki bakat yang baik untuk menciptakan sebuah gol. Tetapi, saya terus bekerja untuk hal tersebut. Hasilnya, keras keras merupakan kunci keberhasilan saya dalam menyarangkan bola ke gawang lawan. Saya terus mengasah diri saya sendiri, demi menjadi pemain terbaik, baik dalam urusan menendang, menyundul hingga membaca sebuah permainan diatas lapangan,” ujar Henry.

Karir Sang King Henry Bersama Arsenal

Henry mengawali karir sepakbola profesional bersama klub asal negaranya sendiri, yakni AS Monaco pada tahun 1994. Di kota yang terletak pada bagian selatan Negeri Monarki itulah, dirinya untuk pertama kali bertemu dengan Arsene Wenger. Namun ironisnya, sang pelatih harus terdepak dari Monaco.

King Henry Arsenal
Karir Henry sukses saat berseragam Arsenal

Tetapi, Henry terus berkembang dengan baik dan menyabet gelar sebagai pemain muda terbaik Perancis dua tahun beruntun, yakni 1996 dan 1997. Sekaligus membantu timnya meraih gelar Ligue 1 dan Trophée des Champions. Di tahun 1999, sang pemain memutuskan untuk hijrah ke Negeri Italia untuk bergabung bersama Juventus. Namun, karirnya berseragam si Nyonya Tua hanya bertahan setengah musim saja.

Sehingga, di tahun yang sama, takdir mempertemukan kembali antara Arsene Wenger bersama Henry di Arsenal. Hasilnya, sang pemain bertransformasi menjadi penyerang tengah yang mematikan dari sebelumnya bermain di posisi sayap. Henry bermain di lini serang The Gunners bersama Dennis Bergkamp dan menjadikan duet tersebut sangat ditakuti oleh bek-bek manapun.

King Henry yang berbagi peran di lini depan bersama Bergkamp yang menurutnya merupakan partner terbaik diatas lapangan, berhasil menorehkan sejarah dengan mencatatkan 49 tak terkalahkan dan satu musim tak terkalahkan (Invincibles) tepatnya di tahun 2003/2004. Secara total, 175 gol telah ia cetak dan memberi 74 assist di EPL.

Puncaknya, pada musim 2006, Henry mampu mengantarkan Arsenal melangkah di partai final Liga Champions. Namun, pada laga tersebut, The Gunners harus takluk dari tim Catalan, Barcelona. Kekalahan tersebut menjadi kisah manis sang pemain selama berseragam Arsenal.

Tahta King Henry

Status King Henry atau Raja Henry diperoleh dari Inggris dan tentu para fans loyalitas Meriam London yang selalu memuji sang pemain bak dewa sepakbola. Arsenal pun membangun sebuah patung perunggu di luar Emirates Stadium. Patung tersebut diadaptasi dari selebrasi khas Henry yang berlari menyusuri ke arah ujung lapangan.

Patung Perunggu King Henry
Patung Perunggu King Henry yang berada di luar Emirates Stadium

Walaupun Henry yang sudah turun dari singgasananya, tetapi Ia mengungkapkan bahwa kecintaan terhadap klub yang telah membesarkan dirinya tetap ada didalam hati. “Saya mencintai Arsenal. Suatu saat tentu saya akan kembali kesana,ujar Henry.

Pemain kelahiran 17 Agustus 1977 tersebut menambahkan bahwa impian selanjutnya adalah untuk melatih Arsenal. “Impian saya setelah pensiun dari dunia sepakbola, saya ingin melatih Arsenal,tutup King Henry.

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Dunia sepakbola tentu masih mengingat sebuah kejadian yang bernama Tragedi Munich. Sebuah kecelakaan pesawat yang dialami oleh punggawa Manchester United pada tahun 1958. Akibatnya, sejumlah pemain harus meregang nyawa dan tak sedikit mengalami luka-luka. Salah satu pemain yang selamat dari kecelakaan tersebut adalah Bobby Charlton.

Charlton harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, lantaran dirinya mengalami luka di bagian kepalanya. Tak hanya di bagian atas, tetapi juga terluka pada bagian selangkangan dan bahkan alat kelaminnya harus terhimpit oleh bangkai pesawat. Namun, berkat perjuangan tim medis dan di dorong dengan keyakinan pemain, Charlton akhirnya mampu kembali merumput, setelah selamat dari kecelakaan yang secara total menewaskan 23 jiwa tersebut.

Tragedi Munich
Pesawat Tragedi Munich

Awalnya, tim MU akan bertandang ke markas Red Star untuk menjalani laga Piala Eropa pada musim 1957/58 di Beogard, Yugoslavia. Namun, pesawat tersebut harus mendarat di Munich untuk mengisi bahan bakar, lantaran pesawat sekelas Airspeed Ambassodar tersebut tak mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.

Setelah pengisian bahan bakar selesai, pilot Kapten James Thain bersama co-pilot Kenneth Rayment mencoba untuk lepas landas dengan maksimal dua kali. Namun kedua usaha tersebut harus dibatalkan, lantaran terjadi gangguan di bagian mesin. Tetapi, sang kapten memilih untuk melakukan upaya ketiga, dengan tujuan supaya tim tidak terlambat.

Di saat usaha ketiga tersebut, salju mulai turun dan membuat ujung lintasan terdapat lapisan lumpur. Sehingga, pesawat tersebut menyentuh tumpukan lumpur, mengakibatkan kehilangan kecepatan. Alhasil, membentur pagar pembatas dan pada bagian sayap menabrak rumah. Takut pesawat meledak, sang pilot menyerukan para penumpang yang selamat untuk pergi menjauhi pesawat.

Sebanyak 23 orang dinyatakan meninggal akibat tragedi sepakbola tersebut, termasuk pemain The Reds Devil, staff kepelatihan hingga sejumlah jurnalis.

Charlton Bangkit Setelah Tragedi Munich 1958

Salah satu korban yang selamat dari Tragedi Munich pada tahun 1958 adalah Sir Bobby Charlton. Pemain yang lahir di Ashington, Inggris pada tanggal 11 Oktober 1937 ini, melakukan debutnya untuk Manchester Uniterd pada usia 17 tahun kala bertanding melawan Charlton di Old Trafford. Setelah kejadian tragedi mengerikan tersebut, Bobby mendedikasikan setiap laga untuk rekan-rekannya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Munich.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton kala menjadi pemain sepak bola

Sir Bobby Charlton bersama Jimmy Murphy membangun ulang MU setelah kejadian tersebut. Murphy menggantikan Busby sebagai asisten pelatih lantaran menjadi korban akan kecelakaan pesawat. Kala itu, Murphy tidak ikut dalam rombongan pesawat, dikarenakan sedang menjalani tugas keduanya, yakni melatih timnas Wales.

Kedua sosok tersebut sangat berjasa dalam kebangkitan The Reds Devil. Alhasil, Bobby berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa atau yang kini disebut dengan Liga Champions pada tahun 1968. Ia pun berhasil mencetak dua gol di partai puncak dan membuat sejarah klub Inggris pertama yang memenangkan gelar Piala Eropa.

Selama keikutsertaannya membela timnas Inggris pada ajang Piala Dunia 1958, 1962, 1966 dan 1970. Ia berhasil mengantarkan The Three Lions mengangkat trofi paling bergengsi tersebut di tahun ketiganya, yakni 1966.

Pasca Berkarir Sebagai Pemain Manchester United

Sir Bobby Charlton akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tim yang tengah melambungkan namanya tersebut untuk menjadi pelatih sebuah klub bernama Preston North End di musim 1973/74. Namun karirnya menjadi manajer tak berjalan mulus. Pasalnya, di musim pertama, klubnya harus terdegradasi. Hanya dua tahun saja, Ia memutuskan untuk pergi.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton saat menjadi anggota direksi Manchester United

Pada tahun 1983, Bobby bergabung bersama Wigan Athletic sebagai direktur dan pernah menjadi pelatih kala itu, namun hanya dalam waktu yang cukup singkat saja. Ia pun kemudian memilih untuk menghabiskan waktu bermainnya di kawasan Afrika Selatan. Sebelum dirinya berbisnis di jasa perjalanan, pelayanan, perhiasan dan membangun sejumlah sekolah sepak bola di daratan Kanada, Australia, China, AS dan tanah kelahirannya, Inggris.