Luis Enrique Tidak Percaya Diri Untuk Menang Tanpa Suraez

Luis Enrique Tidak Percaya Diri Untuk Menang Tanpa Suraez

Luis Enrique selaku pelatih di Barcelona telah mengatakan jika dirinya pesimis untuk memenangkan Copa del Rey tanpa Luis Suarez, dikarenakan pemain tersebut tengah mendapatkan larangan bermain.

Sebab, pemain kelahiran Uruguay itu telah mendapatkan kartu merah ketika berhadapan dengan Atletico Madrid di leg kedua dengan skor 1-1 babak semifinal Copa del Rey yang berlangsung di Stadion Camp Nou.

Blaugrana sebutan Barcelona, mampu melaju ke babak selanjutnya di ajang Copa del Rey musim ini. Dimana mereka meraih kemenangan dengan agregat 3-2 atas lawannya Atletico Madrid.

Dalam pertandingan tersebut Luis Suarez yang harus menerima kartu merah yang diberikan oleh wasit, atas pelanggaran keras yang diberikannya kepada pemain Atletico Madrid yaitu Koke, di menit-menit akhir pertandingan. Dengan itu, pemain tersebut dipastikan tidak akan memperkuat Barca dalam putaran final Copa del Rey musim 2016-17.

Luis Suarez Barcelona
wasit memaksa suarez keluar dari lapangan

Komentar Enrique Untuk Suarez

“Saya berniat untuk naik banding, namun jika anda melihat ke masa lalu, apa banding tersebut akan baik bagi kami,” ujarnya kepada media.

“Yang terkahir adalah tidak sampai di bulan Mei, ada cukup waktu untuk berpikir mengenai situasi itu (untuk penganti Suarez).”

“Hal ini benar-benar membuat saya frustasi, dimana pemain terbaik saya tidak dapat tampil di final. Inilah sepakbola, apapun bisa terjadi. Wasit merasa bahwa Suarez dan Roberto layak mendapatkan kartu kuning kedua.”

Barca yang bermain dengan sembilan pemain dalam pertandingan tersebut, dimana kedudukan skor disamakan oleh pemain Atletico Madrid, Kevin Gameiro di tujuh menih yang tersisa.

Untungnya gol dari  tim asuhan Antoine Griezmann dibabak kedua oleh wasit di anulir karena offside.

“Maka dengan bermain selama 90 menit, kami tidak pantas menrima hasil ini, akan tetapi kami layak berada di final Copa del Rey karena kami terus berjuang untuk mencapainya,” tutup Enrique.

Suarez Menjadi Pahlawan, Namun Tidak Dapat Tampil di Final Copa del Rey

Luis Suarez -Barcelona-Atletico-Madrid
suarez yang mencetak gol satu-satunya kontra atletico madrid

Dalam pertandingan Barcelona yang berhadapan dengan Atletico Madrid dalam semifinal Copa del Rey yang berlangsung di Camp Nou. Luis Suarez yang menyumbang gol satu-satunya di laga tersebut yang berakhir dengan skor 1-1.

Pemain berusia 30 tahun itu telah memastikan kemenangan badi Barca, untuk bisa melaju ke final Copa del Rey. Sangat disayangkan dirinya yang menjadi pahlawan di pertandingan tersebut tidak dapat tampil di final karena mendapatkan larang bermain.

Dimana Suarez telah memberikan gol di menit ke 43. Menjelang babak kedua berakhir, dia diberikan kartu kuning kedua oleh wasit di menit ke 9. Ketika itu sedang berebut bola atas dengan koke, yang tidak sengaja menyikutnya.

Dalam tambahan waktu yang berdurasi lima menit, Atletico mampu menyamakan kedudukan yang mengubah menjadi perpanjangan waktu. Namun, Barca mampu menghadapi situasi tersebut hingga turun minum.

Barcelona yang kini sedang menunggu lawannya di putaran final Copa del Rey, tengah menunggu lawan mereka. Dimana pertandingan antara Alaves vs Celta Vigo akan menjadi penentu lawan mereka di final nanti pada bulan Mei. Dan dibawah kepemimpinan Luis Enrique, Barca ingin memenangkan kejuaraan tersebut secara beruntun.

Dengan terjadinya hal seperti itu , Suarez berharap pihak klub akan naik banding dalam masalahnya. Menurut dia, dirinya tidak bisa menjelaskan apapun dan wasit pun juga tidak memberikan penjelasan mengenai situasi yang terjadi.

Meski begitu, Enrique yang merupakan pelatih di Barcelona tidak merasa yakin dalam pengajuan banding. Yang mengatakan: “Saya setuju saja jika klub harus mengajukan banding, namun kita harus melihat pada masa lalu, yang mana banding itu tidak dapat merubah apapun.”

 

 

 

Carles Puyol, Legendaris La Blaugrana

Carles Puyol, Legendaris La Blaugrana

Carles Puyol merupakan salah satu legenda yang dimiliki oleh Barcelona. Lahir di La Pobla de Segur, Spanyol, Puyol dibesarkan di lingkungan para pesepakbola. Sejak kanak-kanak, Puyol dan bola seakan-akan tak pernah terpisahkan. Sehingga tak heran jika dirinya dibesarkan bersama sepakbola.

Carles Puyol
Carles Puyol si The Wall Barcelona

Pemain kelahiran 13 April 1978 tersebut bergabung bersama akademi atau Barcelona C pada tahun 1995. Namun sayangnya, karir dirinya tidak berkembang dengan sangat baik. Dirinya pun tidak pernah mencetak satu gol pun ke gawang lawan. Pada akhirnya, Puyol memutuskan untuk bergabung bersama Barcelona B.

Keputusan yang sangat berani di tahun 1997 tersebut akhirnya berbuah hasil yang sangat positif. Dirinya mulai berkembang dengan begitu baik.  Tercatat, sebanyak 89 gol mampu Ia lesakkan ke gawang lawan saat berseragam La Blaugrana B. Hingga, tim utama Barcelona FC tertarik untuk menarik sang pemain untuk bermain di kancah senior.

Pada awalnya, Puyol bermain di posisi sebagai gelandang bertahan. Namun perlahan Ia bergeser ke posisi bek kanan. Hingga akhirnya, di tim utama, Ia ditempatkan sebagai bek sentral.

Walaupun berposisi sebagai bek tangguh di lini pertahanan, Puyol mampu mencetak gol. Sebanyak 379 gol sukses Ia menyarangkan bola ke gawang lawan saat berseragam Barcelona.

Di musim 2003/2004, Puyol dipercaya untuk memimpin rekan-rekannya di atas lapangan. Sejak menjadi kapten tim utama, dirinya menjadi lebih bersinar. Namun, di musim pertamanya menjabat sebagai kapten, La Blaugrana tak mampu meraih satu gelar pun. Tahun berikutnya, The Wall (julukan Puyol dari para publik Catalan) berhasil mempersembahkan gelar pertamanya untuk Barcelona, yakni gelar juara La Liga.

Setahun berselang, tepatnya musim 2005/2006, Liga Champions menjadi trofi kedua bagi La Capita (julukan kapten) untuk publik Catalan. Sekaligus mengakhiri puasa gelar kejuaraan antar klub di Eropa selama 14 tahun lamanya. Secara keseluruhan, Puyol sukses merengkuh gelar juara Divisi Primera Spanyol sebanyak empat kali, dua gelar Liga Champions, satu trofi Piala Spanyol, sebanyak empat kali Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub masing-masing satu gelar.

Puyol Bersama Tim Nasional Spanyol

Tak hanya bersinar di level klub bersama Barcelona saja, tetapi Puyol juga menjadi salah satu pemain andalan di lini pertahanan tim Nasional Spanyol. Mungkin Negeri Matador bukanlah sebuah negara cukup memiliki rasa patrotik yang tinggi. Tetapi, dalam satu dekade terakhir rasanya pantas menyebut Spanyol menjadi salah satu negara yang besar. Lantaran, mampu meraih kesuksesan besar.

Carles Puyol

Satu momen Puyol bersama timnas Matador yang tak terlupakan oleh para masyarakat Spanyol, yakni tandukan bola ke gawang Jerman pada ajang Piala Dunia 2010 di babak semifinal. Hasilnya, La Capita mampu mengantarkan timnas Spanyol ke partai puncak. Di partai final, Spanyol mampu mengalahkan Belanda dengan skor tipis 0-1. Dimana gol tunggal diciptakan oleh Andres Iniesta di menit perpanjangan waktu.

Trofi tersebut merupakan gelar juara kedua bagi Puyol bersama tim Nasional Spanyol. Sebelumnya, The Wall mampu mengantarkan timnas Negeri Matador merengkuh trofi EURO di tahun 2008.

Puyol: Saya Cinta Barcelona, Tetapi Ada Ruang Untuk AC Milan

Kecintaan Carles Puyol terhadap klub yang membesarkan namanya, Barcelona tak perlu lagi diragukan. Bersama tim Catalan tersebut, pemain yang mengenakan nomor punggung 5 mampu mempersembahkan berbagai trofi baik di kancah liga domestik maupun di kancah internasional. Namun tetapi, Puyol membagi ruang hati untuk klub raksasa Italia, AC Milan.

Puyol yang menghabiskan seluruh masa karirnya bersama Barcelona dan mencatatkan penampilan sebanyak 600 laga serta memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2013/2014, mengungkapkan bahwa terdapat ruang hati untuk Milan. “Tentu Barcelona tetap menjadi yang pertama. Tetapi jika berbicara Milan, saya sudah mengatakan berulang kali, bahwa Milan adalah klub kedua saya,” ujar Puyol saat menghadiri acara Golden Foot di Monaco.

Raul Gonzalez, Sang Matador Real Madrid

Raul Gonzalez, Sang Matador Real Madrid

Sebelum publik Santiago Bernabeu menjunjung tiggi sosok nomor 7 yang saat ini dikenakan oleh mega bintang Cristiano Ronaldo, tentu mereka mengagungkan sosok Raul Gonzalez yang sama-sama identik dengan nomor punggung tujuh.

Raul Gonzalez
Raul Gonzalez sang Matador Spanyol

Pemain dengan nama lengkap Raul Gonzalez Blanco ini, merupakan salah satu legenda yang dimiliki oleh Real Madrid dan tentu sepakbola Spanyol. Dia adalah striker andalan para pelatih Los Blancos dari tahun 1994 hingga akhirnya memutuskan untuk hengkang pada tahun 2010. Ia pun memiliki julukan “Sang Matador Spanyol“.

Perjalanan Raul Gonzalez

Awal mula karir sepakbola sang matador dimulai saat dirinya bergabung bersama sebuah klub amatir San Cristobel de Los Angeles. Setelah itu, sang ayah berperan penting dalam karirnya dan memutuskan untuk membawa anaknya bergabung bersama Atletico Madrid. Selama dua tahun, Raul sukses memenangkan gelar nasional bersama tim muda Atletico Madrid U-15. Tetapi, semenjak presiden klub menghapuskan tim usia muda, lantaran permasalahan anggaran, Raul hijrah ke rival sekota dan resmi berseragam Real Madrid.

Raul Gonzalez
Raul Gonzalez saat membela Real Madrid

Raul terlebih dahulu bermain untuk tim muda El Real. Ia berhasil tampil memukau, dengan sukses mencetak 13 gol, hanya dari 7 pertandingan yang dilakoninya. Catatan spesial tersebut, membuat sang pelatih tim utama Jorge Valdano memasukkan dirinya ke skuat utama. Pada bulan Oktober 1994, tepatnya saat Raul baru berusia 17 tahun 4 bulan, dirinya melakukan debut untuk tim utama Real Madrid, sekaligus mencatatkan dirinya sebagai pemain termuda sepanjang sejarah tim.

Bakat istimewa tersebut, mampu menggeser sang peraih gelar top skor, Emilio Butrageuno dan membuat dirinya menjadi topik utama di Negeri Matador. Dalam 28 penampilan di tahun pertamanya bergabung bersama El Real, Ia berhasil menyarangkan sembilan gol. Dimana salah satu golnya dicetak ke gawang Atletico Madrid.

Bersama Los Blancos, Raul Gonzalez memenangkan gelar La Liga Spanyol sebanyak enam kali, Piala Super Spanyol tiga kali, gelar Liga Champions UEFA sebanyak tiga kali dan Piala Super Eropa hanya sekali serta dua gelar Piala Interkontinental.

Raul juga berhasil mencatatkan gelar individu bersama El Real. Dirinya menjadi top skor La Liga Spanyol atau disebut dengan gelar El Pichichi pada tahun 1999 dan 2001. Ia pun juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Divisi Primera pada musim 1996-97, penyerang terbaik UEFA di tahun 2000, 2001 dan 2003, pemain terbaik dalam ajang Piala Interkontinental 1998 dan meraih gelar pemain terbaik versi IFFSH 1999 serta Olahragawan terkemuka Spanyol di tahun 2000 dan sebagainya.

Raul dan Perpisahan Real Madrid

Raul Gonzalez bersama Real Madrid tak seperti Paolo Maldini yang membela AC Milan. Dimana, Maldini diperlakukan istimewa sebagai legenda Milan. Namun, perlakukan El Real terhadap Raul tak seperti yang dirasakan oleh bek tangguh milik Milan tersebut.

Raul Gonzalez
Karir Raul Gonzalez harus berakhir bersama Real Madrid

Kisah sang matador sejatinya sama seperti yang dialami oleh Maldini. Dimana kedua pemain tersebut membela masing-masing klub sejak usia dini. Keduanya sukses menjelma menjadi bintang utama. Raul menjadi striker andalan di ujung tombak Los Blancos dan paling ditakuti pada era 90-an hingga 2000-an.

Telah sukses bersama Real Madrid, namun dirinya tak bisa pensiun di klub yang telah dibelanya sejak usia muda tersebut. Raul ingin terus bermain di skuat utama dan tak ingin mengisi bangku cadangan lantaran hal tersebut bukanlah tempatnya. Namun, disisi lain, pihak klub tak bisa terus memaksa permintaan sang pemain.

Sehingga Raul memutuskan untuk hengkang dari klub yang telah membesarkan namanya tersebut daripada harus mengisi bangku cadangan di masa-masa terakhirnya, kala itu usianya sudah menginjak 33 tahun dan belum memutuskan untuk pensiun. Namun, Raul tetap mencintai Real Madrid, walau pernah dikecewakan.