Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Bobby Charlton, Dari Tragedi Munich Menjadi Legenda

Dunia sepakbola tentu masih mengingat sebuah kejadian yang bernama Tragedi Munich. Sebuah kecelakaan pesawat yang dialami oleh punggawa Manchester United pada tahun 1958. Akibatnya, sejumlah pemain harus meregang nyawa dan tak sedikit mengalami luka-luka. Salah satu pemain yang selamat dari kecelakaan tersebut adalah Bobby Charlton.

Charlton harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, lantaran dirinya mengalami luka di bagian kepalanya. Tak hanya di bagian atas, tetapi juga terluka pada bagian selangkangan dan bahkan alat kelaminnya harus terhimpit oleh bangkai pesawat. Namun, berkat perjuangan tim medis dan di dorong dengan keyakinan pemain, Charlton akhirnya mampu kembali merumput, setelah selamat dari kecelakaan yang secara total menewaskan 23 jiwa tersebut.

Tragedi Munich
Pesawat Tragedi Munich

Awalnya, tim MU akan bertandang ke markas Red Star untuk menjalani laga Piala Eropa pada musim 1957/58 di Beogard, Yugoslavia. Namun, pesawat tersebut harus mendarat di Munich untuk mengisi bahan bakar, lantaran pesawat sekelas Airspeed Ambassodar tersebut tak mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.

Setelah pengisian bahan bakar selesai, pilot Kapten James Thain bersama co-pilot Kenneth Rayment mencoba untuk lepas landas dengan maksimal dua kali. Namun kedua usaha tersebut harus dibatalkan, lantaran terjadi gangguan di bagian mesin. Tetapi, sang kapten memilih untuk melakukan upaya ketiga, dengan tujuan supaya tim tidak terlambat.

Di saat usaha ketiga tersebut, salju mulai turun dan membuat ujung lintasan terdapat lapisan lumpur. Sehingga, pesawat tersebut menyentuh tumpukan lumpur, mengakibatkan kehilangan kecepatan. Alhasil, membentur pagar pembatas dan pada bagian sayap menabrak rumah. Takut pesawat meledak, sang pilot menyerukan para penumpang yang selamat untuk pergi menjauhi pesawat.

Sebanyak 23 orang dinyatakan meninggal akibat tragedi sepakbola tersebut, termasuk pemain The Reds Devil, staff kepelatihan hingga sejumlah jurnalis.

Charlton Bangkit Setelah Tragedi Munich 1958

Salah satu korban yang selamat dari Tragedi Munich pada tahun 1958 adalah Sir Bobby Charlton. Pemain yang lahir di Ashington, Inggris pada tanggal 11 Oktober 1937 ini, melakukan debutnya untuk Manchester Uniterd pada usia 17 tahun kala bertanding melawan Charlton di Old Trafford. Setelah kejadian tragedi mengerikan tersebut, Bobby mendedikasikan setiap laga untuk rekan-rekannya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Munich.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton kala menjadi pemain sepak bola

Sir Bobby Charlton bersama Jimmy Murphy membangun ulang MU setelah kejadian tersebut. Murphy menggantikan Busby sebagai asisten pelatih lantaran menjadi korban akan kecelakaan pesawat. Kala itu, Murphy tidak ikut dalam rombongan pesawat, dikarenakan sedang menjalani tugas keduanya, yakni melatih timnas Wales.

Kedua sosok tersebut sangat berjasa dalam kebangkitan The Reds Devil. Alhasil, Bobby berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa atau yang kini disebut dengan Liga Champions pada tahun 1968. Ia pun berhasil mencetak dua gol di partai puncak dan membuat sejarah klub Inggris pertama yang memenangkan gelar Piala Eropa.

Selama keikutsertaannya membela timnas Inggris pada ajang Piala Dunia 1958, 1962, 1966 dan 1970. Ia berhasil mengantarkan The Three Lions mengangkat trofi paling bergengsi tersebut di tahun ketiganya, yakni 1966.

Pasca Berkarir Sebagai Pemain Manchester United

Sir Bobby Charlton akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tim yang tengah melambungkan namanya tersebut untuk menjadi pelatih sebuah klub bernama Preston North End di musim 1973/74. Namun karirnya menjadi manajer tak berjalan mulus. Pasalnya, di musim pertama, klubnya harus terdegradasi. Hanya dua tahun saja, Ia memutuskan untuk pergi.

Sir Bobby Charlton
Sir Bobby Charlton saat menjadi anggota direksi Manchester United

Pada tahun 1983, Bobby bergabung bersama Wigan Athletic sebagai direktur dan pernah menjadi pelatih kala itu, namun hanya dalam waktu yang cukup singkat saja. Ia pun kemudian memilih untuk menghabiskan waktu bermainnya di kawasan Afrika Selatan. Sebelum dirinya berbisnis di jasa perjalanan, pelayanan, perhiasan dan membangun sejumlah sekolah sepak bola di daratan Kanada, Australia, China, AS dan tanah kelahirannya, Inggris.